Total Kunjungan

Selasa, 19 April 2016

Corde Viri - Nurani Milik Manusia Chapter 02



Chapter 02: Pamelia Fabius

Keesokan harinya, aktifitas seperti biasa.. Wahyu bertani dan berkebun. Matahari begitu terik.. Dengan cepat membakar staminanya.. Batas untuk menahan dahaga sudah mencapai puncaknya. ia pun segera berlari mencari air di sungai untuk segera diminum.

Ketika sedang berlari menuju sungai, Wahyu tidak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang sedang membawa pakaian bersih yang sehabis dicuci. Wahyu dan gadis itu terjatuh. Mereka saling menatap satu sama lain.

Rambut pirang yang terpapar sinar matahari, berkilau dengan indah. Mata biru yang terang seperti luasnya langit berada di dalamnya. Wajah yang manis dan halus seperti boneka porselen. Tubuhnya ideal. Gadis yang sungguh cantik.

Wahyu mengalihkan pemandangannya dan melihat pakaian yang dibawa gadis itu tersebar di tanah yang kotor. Melihat itu, Wahyu segera minta maaf tapi gadis itu melihat ke arah Wahyu dengan penuh bara api di matanya. Walau sudah meminta maaf.. Wahyu tetap mendapatkan sebuah tendangan langsung di perut.. Tersungkur dengan wajah ke arah tanah yang penuh batu sungai.. Sangat menyakitkan..

Gadis itu marah dan pergi membawa cuciannya yang kotor. Wahyu masih tergeletak kaku sambil memegang perutku..

"Ternyata ada juga gadis di desa ini cukup kuat." Kata Wahyu sambil berjalan memegang perutnya. "Sakit sekali..."

Wahyu segera pergi ke sungai untuk melampiaskan dahaganya. Setelah minum, Wahyu segera kembali menuju lahan pertanian. Dari kejauhan.. ia melihat kepala desa melambaikan tangan kearahnya.. Wahyu segera membalasnya dan melihat ada seseorang di sebelah kepala desa.

Dicermati sekilas dari kejauhan selang beberapa detik. Wahyu melihat seseorang gadis manis dengan rambut pirang yang indah, mata biru langit, pakaiannya terlihat cantik. Wajahnya pun sangat manis.

Wahyu pun penasaran dan diperhatikannya lebih teliti, Sepertinya wajah gadis itu tidak asing lagi.. Ya, Gadis itu adalah gadis yang menendangnya di pinggiran sungai tadi..

"Kenapa gadis itu ada di sini..!?" kata Wahyu dalam hati.

Wahyu berjalan perlahan menuju lahan pertanian dengan wajah yang lemas. Semakin mendekati ke arah mereka. Degup jantung Wahyu semakin meningkat. Meningkat karena takut.

Ketika gadis itu melihat wajah Wahyu..

"Ahh..!! Pria yang tidak sopan tadi !!"

"Yang mengotori pakaian yang telah kucuci bersih. Mau apa kau disini !?" Ujar gadis itu dengan wajah yang terlihat sangat marah.

"Ia adalah Wahyu. Anak angkatku yang kuceritakan padamu kemarin sore." Kepala desa menjelaskan.

"Wahyu, gadis ini bernama Pamelia Fabius. Pamelia, pria ini bernama Wahyu Adelbert." Kepala desa memperkenalkan mereka berdua sembari tersenyum.

"Adelbert..!? Kau tidak pantas membawa nama keluarga kepala desa.." Teriak Pamelia dengan nada yang menusuk. "Sangat tidak pantas !!"

"Bisakah kau diam sebentar!? apa kau tidak bosan marah-marah terus dari tadi. Dasar gadis bermulut duri !!" Jawab Wahyu yang telah habis kesabarannya mendengar celaan dari Pamelia.

Wahyu dan Pamelia saling melotot dengan mata memancarkan percikan listrik yang menyala-nyala. Kepala desa hanya terus tersenyum melihat mereka berdua.

"Sepertinya kalian berdua akan menjadi teman yang akrab." Kata kepala desa dengan tawa.

"Tidak akan !!" Jawab Wahyu dan Pamelia bersamaan menolak pernyataan kepala desa. "Siapa yang mau berteman dengan orang seperti dia!"

"Hohoho... Senangnya anak muda.. penuh semangat.." Kepala desa pergi meninggalkan mereka.

"Kau.. Aku akan terus memperhatikanmu. Takkan kubiarkan kau membuat kekacauan di desa ini." Kata Pamelia sembari menyusul pergi ke arah kepala desa.

"..... Huh, dasar. Bicaranya seolah-olah aku yang telah berbuat kesalahan besar.. Terus merendahkanku di depan kepala desa." Wahyu menggerutu.

"Ah, lupakan." Kata wahyu pergi ke arah lahan pertanian. "Lebih baik aku kembali bekerja."

Wahyu melihat ada seseorang di lahan pertanian. Seorang pria berotot besar, berwajah kotak, dan berbadan tegap dengan rambut pirang dan mata biru terang. Pria itu sedang menggemburkan tanah di lahan pertanian.

"Anu.. Anda ini siapa ?" Tanya Wahyu kebingungan.

"Oh.. Aku adalah Gaius.. Yang biasanya mengolah ladang ini." Kata Gaius menjelaskan. "Aku telah sakit panas selama 3 hari. Aku telah sembuh kemarin malam."

"Jadi, mulai hari ini aku bekerja membantumu. Maaf membuatmu mengolah lahan ini seorang diri kemarin. Padahal kau masih orang baru." Gaius meminta maaf.

"Ah, tidak apa-apa. Namaku Wahyu. Salam kenal." Wahyu bersalaman dengan Gaius.

Mereka berdua pun mencangkul, menanam bibit, dan menyirami tanaman.. Mengolah lahan seluas 100 hektar hanya berdua. Karena keterbatasan orang, maka lahan seluas itu pun belum digunakan secara maksimal.

Desa Kapalkaram memiliki lahan yang sangat luas jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Desa ini berpenduduk total 25 orang termasuk Wahyu. Pekerjaan mereka bermacam-macam, ada yang bertani seperti Wahyu, ada yang berburu hewan di hutan, ada yang memancing ikan di laut, ada pula yang mengembang-biakkan hewan ternak. Semua adalah pekerjaan warga desa pada umumnya.

Wahyu dan Gaius mengobrol panjang sambil bekerja. Mereka menjadi cepat akrab. Tiba-tiba Pamelia datang. Hanya melihat wajah milik Pamelia saja, perasaan Wahyu langsung tidak enak.

"Kak Gai, Amel membawa bekal untuk kakak." Kata Pamelia dengan suara terdengar imut dari kejauhan.

"Kak Gai.. !?" Ujar Wahyu yang dengan cepat mengetahui bahwa yang dimaksud adalah Gaius.

Pamelia pun bergegas menuju tempat mereka. Melihat Wahyu tepat berada di sebelah Gaius, wajah ceria Pamelia langsung segera berubah menjadi ketus.

"Gaius.. Pamelia itu adikmu..?"

"Ya, Amel adalah adik kandungku satu-satunya. Bagaimana? Manis bukan?"

"Ah.. A.. Iya.." Jawab Wahyu dengan datar.

"Huh.. Dasar. Aku tahu. Kau menjawab seperti itu hanya untuk membuat kakakku senang, kan? Dasar penjilat." Kata Pamelia dengan kasar.

"Hoi.. Aku berusaha untuk sopan disini. Kau mau memulai untuk mengajak bertengkar lagi. Apa kau tidak punya otak sedikitpun?" Wahyu mulai meledak.

Gaius melerai mereka berdua. Mendinginkan suasana.. Berusaha sekuatnya untuk menurunkan tensi.

Akhirnya mereka berdua sudah agak tenang.

"Ini bekal untuk kak Gai. Jangan sakit lagi yaa.."

"Wah.. Banyak sekali.. Wahyu, ayo kita makan bersama."

"A.. Apa!! Tidak boleh!! Bekal buatanku hanya untuk kakakku seorang!! Wahyu tidak boleh memakannya"

"Hah!? Aku juga tidak ingin memakan bekalmu itu.. Ntar perutku bisa sakit lagi seperti terhantam tendangan kaki gorilamu itu.."

"Gorila katamu!! Kamu yang kayak gorila. Rambutmu hitam, pakaianmu juga hitam.. Dasar gorila hitam!!"

Gaius pun tersadar bahwa ajakannya untuk memakan bekal bersamalah yang menjadi pemicu petengkaran mereka. Gaius berpikir bahwa mereka berdua seperti air dan api.

"Aku pergi dulu karena banyak urusan yang lebih penting daripada berdebat dengan gorila.. Permisi!!" Kata Pamelia sambil pergi ke arah rumahnya.

"Dasar.. Padahal seluruh penduduk menerimaku dengan senang hati. Sampai kapan ia mau membuatku naik darah terus." Kata Wahyu dengan suara kecil.

Gaius mendengar perkataan kecil Wahyu. Gaius pun meminta maaf atas perlakuan kasar adiknya. Wahyu pun menanggapi dengan tidak menyalahkan Gaius karena itu murni masalah dirinya dengan Pamelia.

"Kita lupakan masalah tadi. Kau sudah bekerja dari tadi dan pasti lelah, kan? Mari kita bagi bekal ini jadi 2." Kata Gaius mengajak Wahyu untuk makan.

"Aku bisa membeli makanan di pasar." Kata Wahyu menolak.

"Ayolah, anggap saja ini permintaan dariku sebagai teman perdana di hari pertama bekerja bersama." Bujuk Gaius.

Akhirnya Wahyu menyerah dan menerima ajakan Gaius.

Mereka mulai memakan bekal buatan Pamelia bersama. Awalnya Wahyu ragu untuk memasukkan sesendok penuh ke dalam mulutnya. Perlahan dimasukkan ke mulutnya, dikunyahnya makanan itu dan lidahnya mengecap rasa yang tidak pernah ia rasakan.

"E.. Enak." Kata-kata itu terlepas begitu saja keluar dari mulut Wahyu.

"Wah.. Kau pria yang jujur sekali.." Kata Gaius menggoda.

"A.. Aku mengatakan yang kurasakan. Walau aku kesal ternyata masakannya bisa enak seperti ini. Tidak sesuai sekali dengan sifatnya." Wahyu menampik pujiannya untuk Pamelia.

"Hahhaha... Aku penasaran apa yang telah terjadi hingga kalian berdua benar-benar kesal sampai seperti ini."

"Amel yang kau lihat sekarang adalah dari sisi yang sebaliknya. Aku berharap kau bisa segera melihat sifat Amel yang sebenarnya." Ujar Gaius dengan senyum tipis.

"Sifat yang sebenarnya..?" Tanya Wahyu.

"Tidak.. Bukan apa-apa." Jawab Gaius yang masih tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon diperhatikan

Ini adalah blog resmi Corde Viri. Corde Viri adalah sebuah novel fantasi roman merupakan karya perdana Candra Wandrik, selaku penulis novel.

Untuk membaca isi novel, silahkan memilih chapter yang terdapat di dalam daftar isi pada lama di atas.