Total Kunjungan

Selasa, 19 April 2016

Corde Viri - Nurani milik Manusia Chapter 01



Chapter 01: Forget Oneself...

Hari ini adalah hari pertama Aku melihat dunia ini. Aku ditemukan oleh warga terdampar di sekitar pantai dengan keadaan tak sadarkan diri. Tubuhku dipenuhi oleh luka-luka yang mengerikan.

Warga segera memembawaku ke rumah kepala desa yang merupakan satu-satunya tabib di desa tersebut. Kepala desa terbelalak melihat luka yang parah di sekujur tubuhku, namun Aku masih bernapas. Segera.. kepala desa mempersiapkan tempat untuk diriku ditaruh dan memerintahkan sebagian warga untuk mencari tumbuhan obat di hutan. Sisanya menunggu diluar agar tidak mengganggu proses pengobatan. Proses pengobatan memakan waktu yang sangat panjang.. Kira-kira 9 jam lamanya aku terbaring kaku dengan tubuh yang terasa remuk.

Aku tertidur selama 3 hari. Perlahan tubuhku mulai merasakan nuansa hangat, tanganku mulai dapat kugerakkan, napasku pun mulai stabil. Aku pun terbangun dari tempat tidurku, Melihat sebuah cermin besar yang merefleksikan citra diriku. Rambutku berwarna hitam yang Bekas luka di tubuhku sangat banyak.

Kepala desa terkejut melihat keadaanku yang seharusnya sembuh dalam 1 minggu. Aku melihat seorang perempuan paruh baya yang dipanggil oleh para warga sebagai kepala desa. Tanpa pikir panjang aku pun bertanya sebuah pertanyaan yang umum ditanyakan oleh seseorang yang baru terbangun dari tidur panjangnya.

"Ini dimana..?" Kataku penuh kebingungan.

"Kau sedang berada di rumahku."

Kepala desa pun menjelaskan bahwa aku ditemukan tidak sadarkan diri di pantai tak jauh dari desa ini.

Kepala desa menanyakan namaku. Aku terdiam, berpikir panjang hanya untuk menjawab pertanyaan pendek itu. Mengingat namaku sendiri membuat kepalaku sangat sakit.. Aku tidak dapat mengingat apapun.. Dengan jujur aku menjawab..

"Aku tidak tahu namaku.."

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku.."

"Aku tidak tahu siapa diriku.."

Mendengar hal itu, kepala desa terdiam sejenak. Dengan wajah serius, kepala desa menjelaskan bahwa Aku mengalami amnesia.. Ya, Aku amnesia..

Kepala desa menyarankan agar aku tinggal di desa ini untuk sementara waktu. Aku pun menerima tawarannya dengan senang hati.

Satu minggu kemudian.. Aku tetap tidak dapat mengingat apapun. Kepala desa pun mengangkat diriku menjadi anak angkatnya, bagian dari keluarganya. Aku diberi nama Wahyu.. Wahyu Adelbert..

Wahyu tidak mengingat apapun.. tidak tahu apapun.. tidak memiliki apapun.. Saat ini, Wahyu berpikir bahwa sebaiknya memulai hidup yang baru... sebagai Wahyu Adelbert.

Nama desa ini adalah Kapalkaram. Asal namanya dari sejarah dahulu kala, terdapat sebuah kapal pesiar besar yang karam di dekat pantai akibat menabrak bebatuan. Banyak penumpang kapal itu yang meninggal akibat kecelakaan itu. Hingga saat ini pun bangkai sisa kapal besar itu masih dapat dilihat jelas dari sisi pantai.

Untuk membalas budi, Wahyu membantu mengolah lahan pertanian milik kepala desa. Dengan penuh antusias, Wahyu mulai bertanya kepada warga desa mengenai caranya bertani dan berkebun. Warga desa menjawabnya dengan ramah dan hangat.

Wahyu bekerja setiap hari siang dan malam, dengan wajah yang tampak bahagia. Walau pekerjaannya berat, namun hatinya senang dapat membantu warga desa ini.

Warga desa yang melihat Wahyu merasa senang pula. Energi kesenangan Wahyu terpancar keluar memasuki hati para warga desa. Mereka memberitahu banyak hal terhadap wahyu.. Tempat rahasia terbaik di desa.. Acara penting di desa.. Cara berburu di hutan.. hingga tradisi kuno desa ini. Wahyu dengan cepat mempelajari segalanya dan benar-benar membaur dengan warga desa.

Wahyu sangat senang. Ia berharap bisa merasakan kehidupan seperti ini setiap hari.. Kehidupan desa ini benar-benar sangat nyaman.. Wahyu bersiap untuk tidur malam di kamarnya dengan hati penuh dengan puji syukur.

"Aku benar-benar beruntung." Katanya dengan senyum lebar di wajahnya. "Semua ini seperti mimpi"

"Pemandangan desa yang indah.. Warga desa yang ramah terhadapku.. Aku benar-benar memiliki hidup yang indah."

"Walau aku tidak mengingat diriku sendiri. Aku tidak memikirkannya. Aku hidup di saat ini, bukan di masa lalu." Ujarnya dengan wajah yang masih tersenyum.

"Aku akan terus bekerja."

"Aku akan berguna bagi warga desa."

"Aku akan berusaha yang terbaik untuk desa ini. Itu pasti." Wajahnya penuh dengan keyakinan.

Wahyu terus berharap seperti berdoa bahwa dirinya akan tinggal selamanya dalam suasana seperti ini. Tak lama kemudian, Wahyu tertidur pulas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon diperhatikan

Ini adalah blog resmi Corde Viri. Corde Viri adalah sebuah novel fantasi roman merupakan karya perdana Candra Wandrik, selaku penulis novel.

Untuk membaca isi novel, silahkan memilih chapter yang terdapat di dalam daftar isi pada lama di atas.