Total Kunjungan

Selasa, 19 April 2016

Corde Viri - Nurani Milik Manusia Chapter 03

Chapter 03: Love Jacket
            Hari ini hujan lebat secara tiba-tiba membasahi desa Kapalkaram. Hujan gerilya..
            Wahyu yang tengah mengolah lahan, segera bergegas menuju tempat berteduh. Tidak lama kemudian datang seorang gadis dengan pakaian yang telah basah kuyup. Hanya dengan melihat, warna kulitnya terlihat jelas menembus kain yang dikenakannya. Hingga pakaian dalamnya pun terlihat jelas. Wahyu memalingkan pandangannya.
            Wahyu melihat wajah gadis itu. Ternyata dia adalah Pamelia.. Dan mereka hanya berdua di tempat itu.
            "Kau.. Kenapa kau ada disini?" Tanya Pamelia dengan nada tidak senang.
            "Kau sendiri kenapa datang kesini?" Tanya Wahyu kembali tidak menjawab pertanyaan.
            "Apa matamu sudah buta!? Apa kau tidak melihat hujan lebat di luar sana!? Aku kesini karena ini tempat berteduh paling dekat.." Kata Pamelia membalas judes.
            "Tahan.. Sabarlah Wahyu.." Ucap Wahyu dalam hati. "Jangan terpancing kata-kata tajamnya.."
            "Oh ya, Pamelia. Biasanya kau hanya membantu memasak di rumah warga, kan? Kenapa kau bisa berada di luar?" Tanya Wahyu menghiraukan kekesalan di hatinya.
            "Aku sedang membeli bahan-bahan makanan. Saat pulang. Tiba-tiba hujan lebat.. Yah, aku segera mencari tempat berteduh. Kau juga sama, kan?" Kata Pamelia menjelaskan sekaligus bertanya kembali.
            "Iya, sama. Saat itu aku sedang.." Wahyu sedang menjelaskan.
            "Stop! Tak perlu kau jelaskan." Pamelia memotong penjelasan Wahyu. "Aku tidak butuh rincian detail kegiatanmu."
            "Sial.. Gadis ini benar-benar menyebalkan.." Gumam Wahyu dengan tangan dikepalkan sangat kencang.
            Mereka pun diam selama beberapa menit.. Tak saling berbicara, tak saling melihat.. Hati wahyu pun mulai mengeras.. Ia berkomitmen untuk mengacuhkan Pamelia selama ia tinggal di desa Kapalkaram.
            2 jam telah berlalu. Wahyu melihat ke arah Pamelia. Tubuh Pamelia tampak gemetar bak ranting pohon yang tertiup angin. Tangannya yang mungil saling bergenggamman menghangatkan. Bibirnya yang biasanya terlihat merah delima kini mulai membiru. Tatapan matanya mulai membeku.
            Wahyu terus memperhatikan.. memperhatikan.. dan memperhatikan.. Hanya memperhatikan.
            Akhirnya hati Wahyu mulai melunak. Ia melepaskan jaket hitam yang selalu ia kenakan.
            "Hei, pakai ini.." Kata Wahyu sembari menyodorkan jaketnya kepada Pamelia.
            "Apa? Aku tidak butuh." Jawab pamelia ketus.
            "Sudah pakai saja. Aku tahu kau kedinginan." Wahyu menjelaskan.
            "Aku tiba di sini duluan saat hujannya belum membasahi pakaianku. Aku melihat datang kesini dengan pakaianmu sudah basah kuyup semua." Tambahnya.
            "Memang benar aku kedinginan, tapi aku tidak mau membuat hutang budi pada orang asing sepertimu."
            "Ok. Bagaimana kalau begini.. Kau gunakan jaketku untuk menghangatkan tubuhmu.. Dan aku tidak akan menghitung ini sebagai hutang.. Anggap saja kau menemukan jaket ini dan kau memakainya."
            "Bagaimana bisa begitu? Kau menyuruhku berpura-pura tidak tahu bahwa itu jaketmu, lalu menggunakannya. Aku tidak bisa."
            "Bila kau sampai sakit. Yang susah juga penduduk desa karena tenaga untuk memasak makanan di desa menurun. Apa kau tidak berpikir sampai ke sana?"
            Pamelia terdiam sejenak dan berpikir dengan dalam. Akhirnya Pamelia pun berdiri mendekati Wahyu.
            "Ba.. Baiklah. Aku terima niat baikmu. Tapi jangan salah paham. Aku tidak akan menganggap ini sebagai hutangku." Kata Pamelia sambil mengambil jaket.
            "Tidak masalah. Yang penting adalah kau jangan sampai jatuh sakit." Kata Wahyu sambil tersenyum tulus.
            Melihat wajah Wahyu yang tersenyum itu. Pamelia menyadari bahwa Wahyu bukan seperti pria yang ia pikirkan selama ini. Ternyata ia salah menilai Wahyu selama ini. Senyum tulus Wahyu memberi tahu Pamelia akan sifat Wahyu yang tulus menjalani kehidupannya.
            Hujan turun semakin deras.. Nuansa semakin gelap.. Cuaca semakin mendingin.. Namun, hati Pamelia menghangat melihat wajah Wahyu. Pamelia pun mulai membuka obrolan.
            "Hei.. Wahyu. Kudengar kau ditemukan oleh warga desa di dekat pantai. Kenapa kau bisa ada disana?"
            "Sayangnya aku tidak tahu."
            "Tidak tahu? Jadi kau benar-benar amnesia ya?"
            "Ya. Aku tidak tahu namaku. Tidak tahu asalku. Tidak tahu keluargaku, temanku, atau siapapun. Apa kau tahu seperti apa rasanya tidak mengetahui apapun?"
            Pamelia berpikir sejenak untuk merasakan bila semua itu menimpa dirinya. Hati Pamelia terasa perih dan pedih.
            "Maaf.."
            "..... Kau tidak perlu minta maaf. Memang kenyataannya aku tidak mengingat apapun. Tidak perlu kau pikirkan"
            "Tapi.. Kau pasti ingin mengingat itu semua, kan? Kau pasti ingin mengetahui keluarga dan teman-temanmu yang sebenarnya, kan?"
            "Ya.. Kau benar.. Aku ingin mengingat itu semua. Tapi tidak ada yang bisa kuperbuat. Bagiku saat ini, aku adalah Wahyu dan keluargaku adalah kepala desa. Teman-temanku adalah warga desa termasuk dirimu, Pamelia."
            Pamelia mendengar itu langsung tersentuh. Ia berpikir bahwa Wahyu benar-benar pria yang baik dan murni. Bahkan di desa ini pun tidak ada pria yang seterang hati milik Wahyu. Pamelia merasakan bahwa dirinya telah jatuh cinta pada pria ini.
            Hujan telah berhenti.. Langit mulai terang.. Suara kicauan burung pun mulai terdengar..
            "Hujan sudah berhenti.. Saatnya kembali bertani." Kata Wahyu.
            Pamelia tidak menjawab apapun. Di kepalanya hanya terbayang wajah hangat Wahyu.
            "Hoi.. Pamelia. Kau kenapa? Kenapa wajahmu memerah.. Jangan-jangan kau terkena demam?"
            "Ha.. Hah..!? Ti.. Tidak apa-apa.. Me.. Merah apa.. A.. Aku b--b--baik-baik saja.."
            Melihat wajah Wahyu yang sangat dekat dengannya. Wajah Pamelia menjadi lebih merah karena malu dan mendorong Wahyu.
            "Hei.. Kenapa mendorongku?"
            "A.. Aku ti-tidak mendorongmu.. I.. Itu cuma ter-terlalu dekat.."
            "Pamelia, wajahmu masih merah.. Jangan-jangan kau benar sedang demam yaa.. Bisa gawat bila kau sampai jatuh sakit."
            "A.. Aku baik-baik saja. Su.. Sudah. Kau pergi kerja sana.."
            "Tidak, aku akan pergi memanggil kepala desa. Kau tunggulah disini." Kata Wahyu pergi berlari ke luar menuju rumahnya.
            Setelah Wahyu tidak ada. Pamelia pun kembali normal.
            "Perasaan apa ini..? Kenapa ketika dia mendekat, hatiku berdegup kencang.." Gumam Pamelia dalam hati.
            "Apakah gara-gara aku mengetahui jati dirinya, lalu aku menyukainya?"
            "Apakah ini yang namanya cinta?"
            Pamelia menyadari bahwa Jaket Wahyu masih ia kenakan. Segera melepas jaket itu dan memeluknya.

            "Hangat.. Jadi inikah kehangatan hatinya.. Wahyu Adelbert.. Aku tak menyangka akan jatuh cinta pada orang asing." kata Pamelia masih memeluk jaket Wahyu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon diperhatikan

Ini adalah blog resmi Corde Viri. Corde Viri adalah sebuah novel fantasi roman merupakan karya perdana Candra Wandrik, selaku penulis novel.

Untuk membaca isi novel, silahkan memilih chapter yang terdapat di dalam daftar isi pada lama di atas.