Chapter
03: Love Jacket
Hari
ini hujan lebat secara tiba-tiba membasahi desa Kapalkaram. Hujan gerilya..
Wahyu
yang tengah mengolah lahan, segera bergegas menuju tempat berteduh. Tidak lama
kemudian datang seorang gadis dengan pakaian yang telah basah kuyup.
Hanya dengan melihat, warna kulitnya terlihat jelas menembus kain yang
dikenakannya. Hingga pakaian dalamnya pun terlihat jelas. Wahyu memalingkan
pandangannya.
Wahyu
melihat wajah gadis itu.
Ternyata dia adalah Pamelia.. Dan mereka hanya
berdua di tempat itu.
"Kau..
Kenapa kau ada disini?" Tanya Pamelia dengan nada tidak senang.
"Kau
sendiri kenapa datang kesini?" Tanya
Wahyu kembali tidak menjawab pertanyaan.
"Apa
matamu sudah buta!? Apa kau tidak melihat hujan lebat di
luar sana!? Aku kesini karena ini tempat
berteduh paling dekat.." Kata Pamelia membalas judes.
"Tahan..
Sabarlah
Wahyu.." Ucap Wahyu dalam hati. "Jangan terpancing kata-kata tajamnya.."
"Oh
ya, Pamelia. Biasanya kau hanya membantu memasak di rumah warga, kan? Kenapa
kau bisa berada di luar?" Tanya Wahyu
menghiraukan kekesalan di hatinya.
"Aku
sedang membeli bahan-bahan makanan. Saat pulang. Tiba-tiba hujan lebat.. Yah,
aku segera mencari tempat berteduh. Kau juga sama, kan?" Kata Pamelia
menjelaskan sekaligus bertanya kembali.
"Iya,
sama. Saat itu aku sedang.." Wahyu sedang
menjelaskan.
"Stop!
Tak perlu kau jelaskan." Pamelia memotong penjelasan Wahyu. "Aku tidak butuh rincian detail
kegiatanmu."
"Sial..
Gadis ini benar-benar menyebalkan.." Gumam Wahyu dengan
tangan dikepalkan sangat kencang.
Mereka
pun diam selama
beberapa menit.. Tak saling berbicara, tak saling melihat.. Hati wahyu pun
mulai mengeras.. Ia
berkomitmen untuk mengacuhkan Pamelia selama ia tinggal di desa
Kapalkaram.
2
jam telah berlalu. Wahyu melihat ke arah Pamelia. Tubuh Pamelia tampak gemetar
bak ranting pohon yang tertiup angin. Tangannya yang mungil saling
bergenggamman menghangatkan. Bibirnya yang biasanya terlihat merah delima kini
mulai membiru. Tatapan matanya mulai membeku.
Wahyu
terus memperhatikan.. memperhatikan.. dan memperhatikan.. Hanya memperhatikan.
Akhirnya
hati Wahyu mulai melunak. Ia melepaskan jaket hitam yang selalu ia kenakan.
"Hei,
pakai ini.." Kata Wahyu sembari menyodorkan jaketnya kepada Pamelia.
"Apa?
Aku tidak butuh." Jawab pamelia ketus.
"Sudah
pakai saja. Aku tahu kau kedinginan." Wahyu menjelaskan.
"Aku
tiba di sini duluan saat hujannya belum membasahi pakaianku. Aku melihat datang
kesini dengan pakaianmu sudah basah kuyup semua." Tambahnya.
"Memang
benar aku kedinginan, tapi aku tidak mau membuat hutang budi pada orang asing sepertimu."
"Ok.
Bagaimana kalau begini.. Kau gunakan jaketku untuk menghangatkan tubuhmu.. Dan
aku tidak akan menghitung ini sebagai hutang.. Anggap saja kau menemukan jaket ini
dan kau memakainya."
"Bagaimana
bisa begitu? Kau menyuruhku berpura-pura tidak tahu bahwa itu jaketmu, lalu
menggunakannya. Aku tidak bisa."
"Bila kau sampai sakit. Yang susah juga penduduk desa
karena tenaga untuk memasak makanan di desa menurun. Apa
kau tidak berpikir sampai ke sana?"
Pamelia
terdiam sejenak dan berpikir dengan dalam.
Akhirnya Pamelia pun berdiri mendekati Wahyu.
"Ba..
Baiklah. Aku terima niat baikmu. Tapi jangan salah paham. Aku tidak akan
menganggap ini sebagai hutangku." Kata Pamelia sambil mengambil jaket.
"Tidak
masalah. Yang penting adalah kau jangan sampai jatuh sakit." Kata Wahyu
sambil tersenyum tulus.
Melihat wajah Wahyu yang tersenyum itu. Pamelia menyadari bahwa Wahyu bukan seperti pria yang ia
pikirkan selama ini. Ternyata ia salah menilai Wahyu
selama ini. Senyum tulus Wahyu memberi
tahu Pamelia akan sifat Wahyu yang tulus menjalani
kehidupannya.
Hujan
turun semakin deras.. Nuansa semakin gelap.. Cuaca semakin mendingin.. Namun,
hati Pamelia menghangat melihat wajah Wahyu. Pamelia pun mulai membuka obrolan.
"Hei..
Wahyu. Kudengar kau ditemukan oleh warga desa di dekat pantai. Kenapa kau bisa
ada disana?"
"Sayangnya
aku tidak tahu."
"Tidak
tahu? Jadi kau benar-benar amnesia ya?"
"Ya.
Aku tidak tahu namaku. Tidak tahu asalku. Tidak tahu
keluargaku, temanku, atau siapapun. Apa kau tahu seperti apa rasanya tidak
mengetahui apapun?"
Pamelia berpikir sejenak untuk merasakan bila semua itu
menimpa dirinya. Hati Pamelia terasa perih dan pedih.
"Maaf.."
".....
Kau tidak perlu minta maaf. Memang kenyataannya aku tidak mengingat apapun.
Tidak perlu kau pikirkan"
"Tapi..
Kau pasti ingin mengingat itu semua, kan? Kau pasti ingin mengetahui keluarga
dan teman-temanmu yang sebenarnya, kan?"
"Ya..
Kau benar.. Aku ingin mengingat itu semua. Tapi tidak ada yang bisa kuperbuat. Bagiku saat ini, aku adalah Wahyu dan keluargaku adalah kepala desa.
Teman-temanku adalah warga desa termasuk dirimu, Pamelia."
Pamelia
mendengar itu langsung tersentuh. Ia berpikir bahwa Wahyu benar-benar pria yang
baik dan murni. Bahkan di desa ini pun tidak ada pria yang seterang hati milik
Wahyu. Pamelia merasakan bahwa dirinya telah
jatuh cinta pada pria ini.
Hujan
telah berhenti.. Langit mulai terang.. Suara kicauan burung pun mulai
terdengar..
"Hujan
sudah berhenti.. Saatnya kembali bertani." Kata Wahyu.
Pamelia
tidak menjawab apapun. Di kepalanya hanya terbayang wajah hangat Wahyu.
"Hoi..
Pamelia. Kau kenapa? Kenapa wajahmu memerah.. Jangan-jangan kau terkena
demam?"
"Ha..
Hah..!? Ti.. Tidak apa-apa.. Me.. Merah apa.. A.. Aku b--b--baik-baik
saja.."
Melihat
wajah Wahyu yang sangat dekat dengannya. Wajah Pamelia menjadi lebih merah
karena malu dan mendorong Wahyu.
"Hei..
Kenapa mendorongku?"
"A..
Aku ti-tidak mendorongmu.. I.. Itu cuma ter-terlalu dekat.."
"Pamelia,
wajahmu masih merah.. Jangan-jangan kau benar sedang demam yaa.. Bisa gawat
bila kau sampai jatuh sakit."
"A..
Aku baik-baik saja. Su.. Sudah. Kau pergi kerja sana.."
"Tidak,
aku akan pergi memanggil kepala desa. Kau tunggulah
disini." Kata Wahyu pergi berlari ke luar menuju rumahnya.
Setelah
Wahyu tidak ada. Pamelia pun kembali normal.
"Perasaan
apa ini..? Kenapa ketika dia mendekat, hatiku berdegup kencang.." Gumam Pamelia dalam
hati.
"Apakah
gara-gara aku mengetahui jati dirinya, lalu aku menyukainya?"
"Apakah
ini yang namanya cinta?"
Pamelia
menyadari bahwa Jaket Wahyu masih ia kenakan. Segera melepas jaket itu dan
memeluknya.
"Hangat..
Jadi inikah kehangatan hatinya.. Wahyu Adelbert.. Aku tak menyangka akan jatuh
cinta pada orang asing." kata Pamelia masih memeluk jaket Wahyu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar